Taman Baca Masyarakat, Bakal Menjadi Embrio Pendidikan Alternatif

1 (5)

KEDIRI. Berada ditengah-tengah “Kampung Mural” Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, TBM atau Taman Baca Masyarakat “Pondok Waos Masyarakat Kita” atau disingkat Kosakata, secara resmi dibuka. minggu (3/3/2019)

Berbagai komentar terkait keberadaan TBM tersebut, menjadi sorotan untuk menggambarkan kondisi terkini, minat baca disekitar Kelurahan Banjaran pada khususnya dan Kediri pada umumnya. Mengomentari keberadaan TBM ini, Serda Abu Nur Arifin turut angkat bicara.

“Disini, saya ada di TBM Kosakata. Kita disini mengajak untuk kembali membudayakan membaca. Disini banyak sekali buku-buku pendidikan, sejarah, cerita-cerita. Launching ini membuka kembali, minat baca bagi seluruh anak-anak, remaja-remaja,” kata Serda Abu.

Menyambung dari apa yang dikatakan Serda Abu, Ketua Perpusatakaan TBM Nando, sangat senang atas diterimanya TBM Kosakata ini ada ditengah-tengah lingkungan RW 02 Kelurahan Banjaran. Ia berharap, minat baca bersumber dari berbagai literasi, bisa kembali tumbuh dan berkembang, ditengah-tengah modernisasi.

Sebagaimana dikatakan Purba, dari Perpustakaan Kota Kediri, TBM di Kelurahan Banjaran ini bisa menjadi embrio pendidikan alternatif. Ia berharap, siapapun yang datang di TBM Kosakata ini, lebih  mudah untuk membaca buku dengan santai maupun berkomunikasi satu sama lain.

“TBM itu harusnya dimindset  untuk sesuatu yang kreasi dan kreatif. Kreasi berarti tidak hanya  menyediakan buku-buku saja, tetapi menciptakan kreatif. Untuk itu, TBM harus  menciptakan suasana senang,” kata Purba.

Menurutnya, TBM harus memenuhi beberapa hal yang sangat penting, yaitu tenaga pengelola, sarana dan program. Tenaga pengelola yang dimaksud, pengatur TBM agar nyaman dan tertata. Sarana, dikatakan Purba, adalah ruang-ruang yang terkelompokan dan rak-rak yang mengidentifikasi jenis buku. Sedangkan program, lebih menuurus pada aktifitas berbasis partisipatif masyarakat.

“TBM ini sudah terpenuhi, ada tenaga pengelola, ada sarana, ada program. Jadi, TBM ini akan nyaman, tertata, berbagai buku teridentifikasi jenisnya, ada partisipasi aktif masyarakat. Ini harus kita dukung bersama-sama, karena ini dampaknya positif sekali,” jelas Purba.

Ia menambahkan, selain menjadi tempat berbagai literasi, TBM harus mempunyai kegiatan yang terus-menerus untuk menghimpun sebanyak mungkin koleksi literasi, baik itu cerita atau dongeng rakyat maupun bergenre edukasi.

“Peran TBM ini, umunya sebagai sumber pendidikan, penelitian, observasi. Selain itu memiliki peran media atau jembatan yang menghubungkan berbagai literasi. TBM setidaknya, ada peran untuk menjalin atau mengembangkan komunikasi, baik lintas komunitas atau sesama pembaca,” jelas Purba.

Dodot selaku Pembina TBM Kosakata, optimis TBM ini tidak hanya sekedar tempat nongkrong membaca buku saja, tetapi bisa dijadikan sarana yang lebih kreatif, sekaligus menjadi tempat saling kontak satu sama lain. (Penrem 082/CPYJ).

 

Related For Taman Baca Masyarakat, Bakal Menjadi Embrio Pendidikan Alternatif